BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Didunia
pendidikan teori sistem sangat penting dalam dunia keperawatan, karena dalam
teori sistem ini kita dapat mempelajari suatu kerangka kerja yang berhubungan
dengan keseluruhan aspek sosial manusia, struktur masalah-masalah organisasi,
serta perubahan hubungan internal dan lingkungan di sekitarnya.
Sebuah
keberhasilan sistem pelayanan kesehatan yang terjalin pada perawat, dokter atau tim kesehatan lain akan
berhasil secara sempurna apabila ada sikap saling menunjang dan menguntungkan
dalam melakukan praktek keperawatan. Sistem ini akan memberikan kualitas
pelayanan kesehatan yang efektif dan bermutu tinggi dengan melihat nilai-nilai
yang ada di masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan, keperawatan merupakan bagian
penting dalam pelayanan kesehatan.
Para
perawat diharapkan juga dapat memberikan pelayanan secara berkualitas sehingga
masyarakat akan merasa di dukung dan di perhatikan dalam meningkatkan
kesehatan, sehingga tidak ada perbedaan pendapat yang akan terjalin antara
perawat dan pasien. Di samping itu dalam menerapkan prinsip-prinsip perubahan
perawat harus menerapkannya secara bersama-sama tidak membeda-bedakan, harus
menyeluruh (Holistik).
Secara
holistik dalam keperawatan diperlukan
adanya suatu perubahan dengan merubah cara pikir masyarakat tentang jenis-jenis
pelayanan kesehatan yang muncul di dalamnya. Karena perubahan itu merupakan
suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap
(statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Artinya dapat menyesuaikan diri
dari lingkungan yang ada atau beranjak untuk mencapai kesehatan yang optimal.
Suatu
perubahan dan sistem pelayanan
kesehatan yang ada dalam masyarakat
sangat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka, apalagi bila
seorang perawat berhasil menerapkan praktek kesehatan yang baik dalam
masyarakat. Karena itu akan memudahkan seorang perawat dalam menyelesaikan
tugas sebagai seorang perawat, dan nantinya dalam pelayanan kesehatan di rumah
sakit, seorang perawat akan merasa bangga karena bisa melakukan praktek
kesehatan apapun jenisnya dan akan merasa bahwa inilah seorang perawat yang
profesional karena dapat memberikan pelayanan yang terbaik dari yang lainnya.
Kami
kelompok 2 sangat tertarik dengan materi ini, karena dalam materi ini kami
dapat mempelajari lebih luas mengenai bagaimana
seorang perawat berperan sebagai individu dan klien, dalam berinteraksi
di mana satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi terhadap tingkat kebutuhan
dan kepuasan yang merupakan fokus dari asuhan keperawatan.
1.2. Tujuan Penulisan
1. Tujuan
Umum
Untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip
pendekatan secara holistik dalam bidang keperawatan.
2. Tujuan
Khusus
a.
Untuk mengetahui penerapan teori
sistem dalam keperawatan,
b.
Untuk mengetahui Konsep Berubah yang ada dalam pelayanan kesehatan
c.
Untuk mengetahui manfaat dalam Konsep Perubahan
1.3. Manfaat Penulisan
1. Mahasiwa dapat mempelajari bagaimana cara
menerapkan prinsip-prinsip pendekatan secara holistik.
2. Mahasiswa
dapat mempelajari bagaimana cara menerapkan teori sistem dalam keperawatan.
3. Mahasiswa
dapat mempelajari bahkan dapat menerapkan konsep berubah serta bagian-bagiannya
dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4. Mahasiswa
dapat menjadikan konsep holistik menjadi acuan untuk lebih baik bagi perawat.
BAB 2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Pendekatan Holistik
Holistik
merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi
dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Dimensi tersebut
merupakan suatu kesatuan yang utuh. Apabila satu dimensi terganggu akan
mempengaruhi dimensi lainnya. Holistik terkait dengan kesejahteraan (Wellnes).
Untuk mencapai kesejahteraan terdapat lima dimensi yang saling mempengaruhi
yaitu: fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk mencapai
kesejahteraan tersebut, salah satu aspek yang harus dimiliki individu adalah
kemampuan beradaptasi terhadap stimulus. Teori adaptasi Sister Callista Roy
dapat digunakan.
Teori
ini menggunakan pendekatan yang dinamis, di mana peran perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan dengan memfasilitasi kemampuan klien untuk melakukan
adaptasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan dasarnya. Tindakan direncanakan
dengan tujuan mengubah stimulus dan difokuskan pada kemampuan individu dalam
beradaptasi terhadap stimulus. Sedangkan evaluasi yang dilakukan dengan melihat
kemampuan klien dalam beradaptasi dan mencegah timbulnya kembali masalah yang
pernah dialami. Kemampuan adaptasi ini meliputi seluruh aspek baik biologis,
psikologis maupun sosial (holistik). Sebagai pemberi asuhan keperawatan, konsep
holistik dan adaptasi ini merupakan konsep yang harus di pahami oleh perawat
agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada klien.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1. Teori Sistem
1.
Pengertian Teori, Konsep Dan Model keperawatan
Teori
adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep, atau definisi yang
memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau
fenomena-fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara konsep-konsep
tersebut dengan maksud untuk menguraikan, menerangkan, meramalkan dan atau
mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji, diubah atau digunakan sebagai
suatu pedoman dalam penelitian.
Teori
keperawatan didefinisikan oleh Steven (1984), sebagai usaha untuk menguraikan
dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan. Teori keperawatan berperan
dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk
menggambarkan,menjelaskan, memperkirakan dan mengontrol hasil asuhan atau
pelayanan keperawatan yang dilakukan.
Konsep
adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu objek, benda, suatu
peristiwa atau fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa
ide, pandangan atau keyakinan. Kumpulan beberapa konsep ke dalam suatu kerangka
yang dapat dipahami membentuk suatu model atau kerangka konsep. Konsep dapat
dianalogikan sebagai batu bata dan papan untuk membangun sebuah rumah dimana
rumah yang dibangun diibaratkan sebagai kerangka konsep.
.
Umpan balik dalam sistem pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga
kesehatan
yang
juga dapat menjadikan input yang selalu meningkat .
LINGKUNGAN
Semua
keadaan diluar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan sebagaimana
dalam sistem pelayanan kesehatan disebut dengan Lingkungan, lingkungan yang
dimaksud dapat berupa lingkungan geografis, atau situasi kondisi sosial yang
ada dimasyarakat seperti institusi diluar pelayanan kesehatan . Pengertian
Teori Sistem
Teori
sistem terdiri dari subsitem yang membentuk sebuah sitem yang antara satu
dengan yang lainnya harus saling mempengaruhi. Dalam teori sistem disebutkan
bahwa sistem itu terbentuk dari subsistem yang saling berhubungan dan saling
mempengaruhi atau merupakan kumpulan dari beberapa komponen. Komponen tersebut
saling berhubungan dan merupakan bagian dari suatu tujuan umum untuk membentuk
suatu tujuan. Konsep sistem digunakan unutk menganalisis perilaku dan gejala
sosial dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan subsistem yang
tercangkup di dalamnya.
Ada
dua jenis teori sistem,
- Sistem Terbuka, seperti organ tubuh manusia atau suatu proses seperti proses keperawatan, interaksi dengan lingkungan, serta perubahan antra sistem dengan lingkungan.
- Sistem Tertutup, seperti reaksi kimia dalam suatu tabung uji tidak berhubungan dengan lingkungan.
Berikut
ini merupakan bagian-bagian dari teori system, yaitu :
1.
INPUT
Input
ini merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya
sebuah sistem, seperti sistem pelayanan kesehatan, maka masukannya berupa
potensi masyarakat, tenaga kesehatan, sarana kesehatan dan lain sebagainya.
2.
PROSES
Proses
adalah berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan . Kegiatan yang berfungsi
untuk mengubah sebuah masukan untuk menjadikan sebuah hasil yang diharapkan
dari sistem tersebut, sebagaimana contoh dalam sistem pelayanan kesehatan, maka
yang dimaksud dengan proses adalah berbagai kagiatan dalam pelayanan kesehatan.
3.
OUTPUT
Output
merupakan hasil yang diperoleh dari sebuah proses, dalam sistem pelayanan
kesehatan hasilnya dapat berupa pelayanan kesehatan yang berkualitas, efektif
dan efisien serta dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat sehingga pasien
sembuh dan sehat optimal .
4.
DAMPAK
Akibat
yang dihasilkan dari sebuah hasil dari system disebut dampak, yang terjadi
relatif lama waktunya. Setelah hasil tercapai, maka dampaknya akan menjadikan
masyarakat sehat dan mengurangi angka kesakitan dan kematian karena pelayanan
terjangkau oleh masyarakat .
5.
UMPAN
BALIK
Umpan
balik merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini terjadi
dari sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi
Beberapa
teori keperawatan menggunakan sistem teori sebagai dasarnya. Sebagai contoh,
Neuman (1995) menggambarkan sebuah model manusia keseluruhan dan pendekatan
sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka, manusia berhubungan dengan lingkungan,
baik lingkungan eksternal maupun internal, dan interaksi manusia terhadap
tekanan lingkungan, dapat mempengaruhi kesejahteraan klien.
2. Tujuan
Teori Dan Model Keperawatan
Teori
keperawatan sebagai salah satu bagian kunci perkembangan ilmu keperawatan dan
pengembangan profesi keperawatan memiliki tujuan yang ingin dicapai diantaranya
:
- Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan atau bentuk model praktek keperawatan sehingga berbagai permasalahan dapat teratasi.
- Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan kemudian dapat memberikan dasar dalam penyelesaian berbagai masalah keperawatan.
- Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat dipertimbangkan.
- Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang.
3. Karakteristik
Teori Dan Model Keperawatan
Torrest
(1985) dan Chinn & Jacob (1983) menegaskan terdapat lima karakteristik
dasar teori keperawatan :
- Teori keperawatan mengidentifikasikan dan mendefinisikan sebagai hubungan yang spesifik dari konsep-konsep keperawatan seperti hubungan antara konsep manusia, konsep sehat-sakit, konsep lingkungan dan keperawatan
- Teori keperawatan bersifat ilmiah, artinya teori keperawatan digunakan dengan alasan atau rasional yang jelas dan dikembangkan dengan menggunakan cara berpikir yang logis
- Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum, artinya teori keperawatan dapat digunakan pada masalah sederhana maupun masalah kesehatan yang kompleks sesuai dengan situasi praktek keperawatan
- Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan yang dilakukan melalui penelitian
- Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki kualitas praktek keperawatan
4. Macam-Macam
Model Teori Menurut Beberapa Ahli Keperawatan
A.
Model Konsep dan Teori Keperawatan Florence Nigtingale
Florence
merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang
melalui filosofi keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi peran perawat dalam
menemukan kebutuhan dasar manusia pada klien serta pentingnya pengaruh
lingkungan di dalam perawatan orang sakit yang dikenal teori lingkungannya.
Model
konsep Florence Nigtingale memposisikan lingkungan adalah sebagai focus asuhan
keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit model
konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan dan
kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan/tindakan keperawatan
lebih di orientasikan pada yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data
dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam
rangka perawat mampu menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung
dengan profesi lain.
B.
Model Konsep dan Teori Keperawatan Marta E. Rogers
Model
konsep dan teori keperawatan menurut Martha E. Rogers dikenal dengan nama
konsep manusia sebagai unit. Dalam memahami konsep model dan teori ini, Martha
berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh, yang memiliki sifat
dan karakter yang berbeda-beda. Dalam proses kehidupan manusia yang dinamis,
manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan yang saling mempengaruhi dan
dipengaruhi, serta dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda
satu dengan yang lain dan manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan
tersendiri.
Asumsi
tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah yaitu keutuhan
manusia dan lingkungan, kemudian system ketersediaan sebagai satu kesatuan yang
utuh serta proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang
terdiri dari :
a.
Integritas : Individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang
tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi satu dengan
yang lain.
b.
Resonansi : Proses kehidupan antara individu dengan lingkungan berlangsung
dengan berirama dengan frekuensi yang bervariasi.
c.
Helicy : terjadinya proses interaksi
antara manusia dengan lingkungan akan terjadi perubahan baik perlahan-lahan
maupun berlangsung dengan cepat.
C.
Model Konsep dan Teori Keperawatan Myra Levine
Model
konsep Myra Levine memandang klien sebagai makhluk hidup terintegrasi yang
saling berinteraksi dan beradaptasi terhadap lingkungannya. Dan intervensi
keperawatan adalah suatu aktivitas konservasi dan konservasi energi adalah
bagian yang menjadi pertimbangan. Kemudian sehat menurut Levine itu dilihat
dari sudut pandang konservasi energi, sedangkan dalam keperawatan terdapat
empat konservasi di antaranya energi klien, struktur integritas, integritas
personal dan integritas social, sehingga pendekatan asuhan keperawatan
ditunjukkan pada pengguanaan sumber-sumber kekuatan klien secara optimal.
D.
Virginia Henderson (Teori Henderson)
Virginia
henderson memperkenalkan defenition of nursing (defenisi keperawatan).
Defenisinya mengenai keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikannya.Ia menyatakan bahwa defenisi keperawatan harus menyertakan
prinsip kesetimbangan fisiologis. Henderson sendiri kemudian mengemukakan
sebuah defenisi keperawatan yang ditinjau dari sisi fungsional. Menurutnya,
tugas unik perawat adalah membantu individu, baik dalam keadaan sakit maupun
sehat, melalui upayanya melaksanakan berbagai aktivitas guna mendukung
kesehatan dan penyembuhan individu atau proses meninggal dengan damai, yang
dapat dilakukan secara mandiri oleh individu saat ia memiliki kekuatan,
kemampuan, kemauan, atau pengetahuan untk itu. Di samping itu, Henderson juga
mengembangkan sebuah model keperawatan yang dikenal dengan “The Activities of
Living”.Model tersebut menjelaskan bahwa tugas perawat adalah membantu individu
dalam meningkatkan kemandiriannya secepat mungkin. Perawat menjalankan tugasnya
secara mandiri, tidak tergantung pada dokter.Akan tetapi perawat tetap
menyampaikan rencananya pada dokter sewaktu mengunjungi pasien.
- Konsep Utama Teori Henderson
Menurut
Henderson, kebutuhan dasar manusia terdiri atas 14 komponen yang merupakan
komponen penanganan perawatan. Keempat belas kebutuhan tersebut adalah sebagai
berikut.
1)
Bernapas secara normal
2)
Makan dan minum dengan cukup
3)
Membuang kotoran tubuh
4)
Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan
5)
Tidur dan istirahat
6)
Memilih pakaian yang sesuai
7)
Menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan menyesuaikan pakaian
dan mengubah lingkungan
8)
Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integumen
9)
Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai
10)
Berkomunikasi dengan orang lain dalam menungkapkan emosi, kebutuhan, rasa
takut, atau pendapat
11)
Beribadah sesuai dengan keyakinan
12)
Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi
13)
Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi
14)
Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada
perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan
yang tersedia.
Menurut
henderson, hubungan perawat-klien terbagi dalam tiga tingkatan, mulai dari
hubungan sangat bergantung hingga hubungan sangat mandiri.
1.
Perawat sebagai pengganti (substitute) bagi pasien
2.
Perawat sebagai penolong (helper) bagi pasien
3.
Perawat sebagai mitra (partner) bagi pasien.
Pada
situasi pasien yang gawat, perawat berperan sebagai pengganti di dalam memenuhi
kebutuhan pasien akibat kekuatan fisik, kemampuan, atau kemampuan pasien yang
berkurang.Di sini perawat berfungsi untuk “melengkapinya”.Setelah kondisi gawat
berlalu dan pasien berada fase pemulihan, perawat berperan sebagai penolong
untuk menolong atau membantu pasien mendapatkan kembali kemandiriannya.
Kemandirin ini sifatnya relatif, sebab tidak ada satu pun manusia yang tidak
bergantung pada orang lain. Meskipun demikian, perawat berusaha keras saling
bergantung demi mewujudkan kesehatan pasien.Sebagai mitra, perawat dan pasien
bersama-sama merumuskan rencana perawatan bagi pasien.Meski diagnosisnya
berbeda, setiap pasien tetap memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Hanya saja, kebutuhan dasar tersebut dimodifikasi berdasarkan kondisi patologis
dan faktor lainnya, seperti usia, tabiat, kondisi emosional, status sosial atau
budaya, serta kekuatan fisik dan intelektual.
Kaitannya
dengan hubungan perawat-dokter, Henderson berpendapat bahwa perawat tidak boleh
selalu tunduk mengikuti perintah dokter. Henderson sendiri mempertanyakan
filosofi yang membolehkan seorang dokter memberi perintah kepada pasien atau
tenaga kesehatan lainnya.
E.
Imogene King (Teori King)
King
memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan
sistem terbuka dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan,
sehingga King mengemukakan dalam model konsep interaksi.
Dalam
mencapai hubungan interaksi, King mengemukakan konsep kerjanya yang meliputi
adanya system personal, system interpersonal dan system social yang saling
berhubungan satu dengan yang lain.
Menurut
King system personal merupakan system terbuka dimana didalamnya terdapat
persepsi, adanya pola tumbuh kembang, gambaran tubuh, ruang dan waktu dari
individu dan lingkungan, kemudian hubungan interpersonal merupakan suatu
hubungan antara perawat dan pasien serta hubungan social yang mengandung arti
bahwa suatu interaksi perawat dan pasien dalam menegakkan system social, sesuai
dengan situasi yang ada. Melalui dasar sistem tersebut, maka King memandang
manusia merupakan individu yang reaktif yakni bereaksi terhadap situasi, orang
dan objek. Manusia sebagai makhluk yang berorientasi terhadap waktu tidak lepas
dari masa lalu dan sekarang yang dapat mempengaruhi masa yang akan datang dan
sebagai makhluk social manusia akan hidup bersama orang lain yang akan
berinteraksi satu dengan yang lain.
Berdasarkan
hal tersebut, maka manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yaitu:
1.
Informasi kesehatan
2.
Pencegah penyakit
3.
Kebutuhan terhadap perawat ketika sakit
F.
Dorothe E. Orem (Teori Orem)
Pandangan
Teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan
individu dalam melakukan tindakan keperewatan mandiri serta mengatur dalam
kebutuhannya. Dalam konsep keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori
self care diantaranya :
1.
Perawatan Diri Sendiri (self care)
Dalam
teori self care, Orem mengemukakan bahwa self care meliputi : pertama, self
care itu sendiri, yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu
serta dilaksanakan oleh individu itun sendiri dalam memenuhi serta
mempertahankan kehidupan, keshatan serta kesejahteraan
kedua,
self care agency, merupakan suatu kemampuan inidividu dalam melakukan perawatan
diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural,
kesehatan dan lain-lain.
ketiga,
adanya tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan
mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatn diri sendiri dengan
menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat ; keempat,
kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada
penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan
dengan prises kehidupan manusia serta dalam upaya mempertahankan fungsi
tubuh, self care yang bersifat universal itu adalah aktivitas sehari-hari
(ADL) dengan mengelompokkan kedalamkebutuhan dasar manusianya.
2.
Self Care Defisit
Merupakan
bagian penting dalam perawatan secara umum dimana segala perencanaan
kepereawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan yang dapat diterapkan
pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta
adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam
peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas.
3.
Teori Sistem Keperawatan
Merupakan
teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien
terpenuhi oleh perawat atau pasien sendiri yang didasari pada Orem yang
mengemukakan tentang pemenuhan kebutuhan diri sendiri,kebutuhan pasien dan
kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri.
G.
Jean Watson (Teori Watson)
`
Jean
Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan
manusia dan merawat manusia.Tolak ukur pandangan Watson ini didasari pada
unsure teori kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa
manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan
diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi
kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi,
kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktifitas
dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk
integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan
kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu
kebutuhan aktualisasi diri.
Teori
human caring
Teori
Jean Watson yang telah dipublikasikan dalam keperawatan adalah “human science
and humancare”. Watson percaya bahwa focus utama dalam keperawatan adalah pada
carative factor yang bermula dari perspektif himanistik yang dikombinasikan
dengan dasar poengetahuan ilmiah. Oleh karena itu, perawat perlu mengembangkan
filososfi humanistic dan system nilai serta seni yang kuat.Filosofi humanistic
dan system nilai ini member fondasi yang kokoh bagi ilmu keperawatan, sedangkan
dasar seni dapat membantu perawat menbgembangkan vidsi mereka serta nilai-nilai
dunia dan keterampilan berpikir kritis.Pengembangan keterampilan berpikir
kritis.Pengembangan keterampilan berpikir kritis dibutuhkan dalam asuhan
keperawatan, namun fokusnya lebih pada peningkatan kesehatan, bukan pengobatan
penyakit.
Asumsi
dasar tentang ilmu keperawatan Watson
Beberapa
asumsi dasar tentang teori Watson adalah sebagai berikut:
1.
Asuhan keperawatan dapat dilakukan dan diperaktikkan secara interpersonal.
2.
Asuhan keperawatterlaksana oleh adanya factor carative yang menghasilkan
kepuasan pada kebutuhan manusia.
3.
Asuhan keperawatan yang efektif dapat meningkatkan kesehatan dan perkembangan
individu dan keluarga.
4.
Respons asuhan keperawatan tidak ahanya menerima seseorang sebagaimana mereka
sekarang, tetapi juga hal-hal yang mungkin terjadi padanya nantinya.
5.
Lingkungan asuhan keperawatan adalah sesuatu yang menawarkan kemungkinan
perkembangan potensi dan member keleluasaan bagi seseorang untuk memilih
kegiatan yang tebaik bagi dirinya dalam waktu yang telah ditentukan.
H.
Sister Calista Roy (Teori Roy)
Model
Adaptasi Roy
ROY
berpendapat bahwa ada empat elemen penting dalam model adaptasi keperawatan,
yakni keperawatan, tenaga kesehatan, lingkungan, dan sehat.
1.
Elemen keperawatan
Keperawatan
adalah suatu disiplin ilmu dan ilmu tersebut menjadi landasan dalam
melaksanakan praktik keperawatan (Roy, 1983).
Lebih
spesifik Roy (1986) berpendapat bahwa keperawatan sebagai ilmu dan
praktik berperan dalam meningkatkan adaptasi individu dan kelompok
terhadap kesehatan sehingga sikap yang muncul semakin positif.
Keperawatan
memberi perbaikan pada manusia sebagai sutu kesatuan yang utuh untuk
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan dan berespons terhadap
stimulus internal yang mempengaruhi adaptasi.Jika stressor terjadi dan individu
tidak dapat menggunakan “koping” secara efektif maka individu tersebut
memerlukan perawatan.
Tujuan
keperawatan adalah meningkatkan interaksi individu dengan lingkungan, sehingga
adaptasi dalam setiap aspek semakin meningkat.Komponen-komponen adaptasi
mencakup fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan saling
ketergantungan.
2.
Elemen manusia
Manusia
merupakan bagian dari sistem adaptasi, yaitu suatu kumpulan unit yang saling
berhubungan mempunyai masukan, proses kontrol, keluaran dan umpan balik (Roy,
1986). Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan
adaptasi secara spesifik. Manusia dalam sistem ini berperan sebagai kognator
dan regulator (pengaturan) untuk mempertahankan adaptasi.
Terdapat
empat cara adaptasi, mencakup adaptasi terhadap fungsi fisologis, konsep diri,
fungsi peran dan terhadap kebutuhan saling ketergantungan.
Pada
model adaptasi keperawatan, manusia dilihat dari sistem kehidupan yang terbuka,
adaptif, melakukan pertukaran energi dengan zat/benda dan lingkungan.
Manusia
sebagai masukan dalam sistem adaptif, terdiri dari lingkungan eksternal dan
internal. Proses kontrol manusia adalah mekanisme koping yakni sistem regulator
dan kognator. Keluaran dari sistem ini dapat berupa respons adaptif atau
respons tidak efektif.
3.
Elemen lingkungan
Lingkungan
didefenisikan sebagai semua kondisi, keadaan, dan faktor lain yang mempengaruhi
perkembangan dan perilaku individu atau kelompok.
4.
Elemen sehat
Kesehatan
didefenisikan sebagai keadaan yang muncul atau proses yang terjadi pada mahluk
hidup dan terintegrasi dalam individu seutuhnya (Roy, 1984).
Proses
adaptasi
Proses
adaptasi melibatkan seluruh fungsi secara holistik, mencakup semua interaksi
individu dengan lingkungannya dan dibagi menjadi dua proses, seperti yang
berikut.
1.
Proses yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan internal dan eksternal.
Perubahan ini merupakan stresor atau stimulus fokal. Apabila stresor atau
stimulus tersebut mendapat dukungan dari faktor-faktor konseptual dan resitual
maka akanmuncul interaksi yang biasa disebut stres. Dengan demikian adaptasi
sangat diperlukan untuk mengatasi stres.
2.
Proses mekanisme koping yang dirangsang untuk menghasilkan respons adaptif atau
tidak efektif. Hasil dari proses adaptasi adalah suatu kondisi yang dapat
meningkatkan pencapaian tujuan individu mencakup kelangsungan hidup,
pertumbuhan, reproduksi, dan integritas.
Pengertian Berubah dan Perubahan
·
Berubah secara umum adalah bagian dari kehidupan
setiap orang; berubah adalah cara seseorang bertumbuh, berkembang, dan
beradaptasi.
·
Berubah
secra khusus adalah perawat harus berubah yang awalnya yang tidak profesional
menjadi perawat yang profesional.
·
Perubahan secara umum adalah suatu proses dimana
terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status
yang bersifat dinamis. Artinya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang
ada. Perubahan dapat positif atau negatif
terencana atau tidak terencana.
·
Perubahan secara khusus adalah Perawat harus mengetahui sampai
sejauh mana pengetahuan dari individu sehingga memudahkannya untuk mengetahui
apakah perubahan yang terjadi pada pasien sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya
Ø Perubahan Dalam Keperawatan
Dalam
perkembangannya keperawatan juga mengalami proses perubahan seiring dengan
kemajuan dan teknologi. Alasan terjadinya perubahan dalam keperawatan antara
lain:
1). Keperawatan
Sebagai Profesi
Keperawatan
sebagai profesi yang diakui oleh masyarakat dalam memberikan pelayanan
kesehatan melalui asuhan keperawatan tentu akan dituntut untuk selalu berubah
kearah kemandirian dalam profesi keperawatan, sehingga sebagai profesi akan
mengalami perubahan kearah professional dengan menunjukan agar profesi keperawatan
diakui oleh profesi bidang kesehatan yang sejajar dalam pelayanan kesehatan.
2). Keperawatan
Sebagai Bentuk Pelayanan Asuhan Keperawatan
Keperawatan
sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan
professional yang diberikan kepada masyarakat akan terus memenuhi
tuntutan kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan dalam penerapan model
asuhan keperawatan yang tepat, sesuai dengan lingkup praktek keperawatan.
3). Keperawatan
Sebagai Ilmu Pengetahuan
Keperawatan
sebagai ilmu pengetahuan terus selalu berubah dan berkembang sejalan dengan
tuntutan zaman dan perubahan teknologi, karena itu dituntut selalu mengadakan
perubahan melalui penelitian keperawatan sehingga ilmu keperawatan diakui
secara bersama oleh disiplin ilmu lain yang memiliki landasan yang kokoh dalam
keilmuan.
4). Keperawatan
Sebagai Komunikasi
Keperawatan
sebagai komunikasi dalam masyarakat ilmiah harus selalu menunjukkan jiwa
professional dalam tugas dan tanggung jawabnya dan selalu mengadakan perubahan
sehingga citra sebagai profesi tetap bertahan dan berkembang.
Ø Manfaat perubahan dalam keperawatan
a) Meningkatkan kesejahteraan dan
kenyamanan bagi perawat dan klien,
b) Meningkatkan profitability,
c) Meningkatkan kinerja ,
d)
Memberikan kepuasan bagi individu dan kehidupan sosialnya.
Ø Ciri-ciri perawat profesional. :
a) Care (
peduli )
b) Empati.
c) Altuisme
( mementingkan kesejahteraan ).
d) Berbuat
baik.
e) Justice ( keadilan ).
f) Tidak
merugikan.
g) Jujur.
h) Menepati
janji.
i) Kerahasiaan.
j) Akuntabilitas.
A.KONSEP
HOLISTIC CARE didasarkan pada konsep keperawatan
holistik yang meyakini bahwa penyakit yang dialami seseorang bukan saja
merupakan masalah fisik yang hanya dapat diselesaikan dengan pemberian obat
semata. Pelayanan keperawatan holistik memberikan pelayanan kesehatan dengan
lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi
kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi.
Klinik ini tidak saja menawarkan pelayanan keperawatan dengan memanfaatkan
teknologi perawatan moderen maupun beragam terapi alternatif ataupun
komplementer, tetapi juga pelayanan konseling dan promosi kesehatan untuk semua
1.Caring
Caring adalah
cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan
sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi
sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999) Sikap
caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik
Konsep Caring
Caring merupakan
fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan
dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan
dipelajari dari berbagai macam filosofi dan perspektif etik . Mayehoff
memandang caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada tujuan membantu
orang lain bertumbuh dan mengaktualisasikan diri. Mayehoff juga
memperkenalkan sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati. Sedangkan Sobel
mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan menghargai orang
lain. Artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan
bagaimana seseorang berpikir, bertindak dan berperasaan Marriner dan Tomey
(1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari
praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal.Caring bukan semata-mata
perilaku. .Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam
aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial.Bersikap caring untuk klien dan
bekerja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi
keperawatan.Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata
yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media
pemberi asuhan (Curruth, Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper, & Burroughs,
1999).
2.Human care merupakan
hal yang mendasar dalam teori caring. Menurut Pasquali dan Arnold (1989)
serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk melindungi,
meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu
orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta
membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri
.Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Care,
mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan
antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien
sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh .
. 1.Teori
Konsep Caring Beberapa ahli merumuskan konsep caring dalam beberapa teori.
a. Menurut Jean Watson, ada tujuh
asumsi yang mendasari konsep caring. Ketujuh asumsi tersebut adalah :
1. caring hanya
akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara interpersonal,
2. caring terdiri dari faktor karatif yang
berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien,
3. caring yang
efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga,
4. caring merupakan respon yang diterima oleh
seseorang tidak hanya saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah
seseorang tersebut nantinya,
5. lingkungan yang penuh caring sangat
potensial untuk mendukung perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang
dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
6. caring lebih
kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan biofisik
dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan
derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit
, 7. caring
merupakan inti dari keperawatan (Julia,1995). Watson juga menekankan dalam
sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor karatif yang berasal dari
perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar.
Faktor karatif membantu perawat untuk
menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari
pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan
dalam melayani dan membantu klien.
Sepuluh faktor
karatif tersebut adalah sebagai berikut :
1.Pembentukan
sistem nilai humanistik dan altruistic. Perawat menumbuhkan rasa puas karena
mampu memberikan sesuatu kepada klien.Selain itu, perawat juga memperlihatkan
kemampuan diri dengan memberikan pendidikan kesehatan pada klien.
2. Memberikan kepercayaan-harapan dengan cara memfasilitasi
dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Di samping itu, perawat
meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan.
3. Menumbuhkan
kesensitifan terhadap diri dan orang lain. Perawat belajar menghargai
kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih
sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang lain.
4. Mengembangkan hubungan saling percaya.
Perawat memberikan informasi dengan jujur, dan memperlihatkan sikap empati
yaitu turut merasakan apa yang dialami klien. Sehingga karakter yang diperlukan
dalam faktor ini antara lain adalah kongruen, empati, dan kehangatan.
5. Meningkatkan
dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien. Perawat memberikan
waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien.
6. Penggunaan sistematis metoda penyelesaian
masalah untuk pengambilan keputusan. Perawat menggunakan metoda proses
keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada klien.
7. Peningkatan
pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan asuhan mandiri,
menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan
personal klien.
8. Menciptakan lingkungan fisik, mental,
sosiokultural, dan spritual yang mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruh
lingkungan internal dan eksternal klien terhadap kesehatan dan kondisi penyakit
klien.
9. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan
manusiawi. Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif diri dan
klien.Pemenuhan kebutuhan paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat
selanjutnya.
10. Mengijinkan terjadinya tekanan yang
bersifat fenomenologis agar pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat
dicapai. Kadang-kadang seorang klien perlu dihadapkan pada pengalaman/pemikiran
yang bersifat profokatif.
Tujuannya adalah
agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri (Julia,
1995). Dari kesepuluh faktor karatif tersebut, Watson merumuskan tiga
faktor karatif yang menjadi filosofi dasar dari konsep caring.
Tiga faktor karatif tersebut adalah
pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistik, memberikan harapan dan
kepercayaan, serta menumbuhkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang
lain (Julia, 1995). Kesepuluh faktor karatif di atas perlu selalu
dilakukan oleh perawat agar semua aspek dalam diri klien dapat tertangani
sehingga asuhan keperawatan profesional dan bermutu dapat diwujudkan. Selain
itu, melalui penerapan faktor karatif ini perawat juga dapat belajar untuk
lebih memahami diri sebelum memahami orang lain (Nurahmah, 2006). Leininger
(1991) mengemukakan teori “culture care diversity and universality”, beberapa
konsep yang didefinisikan antara lain :
1.kultural berkenaan dengan pembelajaran dan
berbagi sistem nilai, kepercayaan, norma, dan gaya hidup antar kelompok yang
dapat mempengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak dalam
pola-pola tertentu;
2.keanekaragaman
kultural dalam caring menunjukkan adanya variasi dan perbedaan dalam arti,
pola, nilai, cara hidup, atau simbol care antara sekelompok orang yang
berhubungan, mendukung, atau perbedaan dalam mengekspresikan humancare;
3. cultural care
didefinisikan sebagai subjektivitas dan objektivitas dalam pembelajaran dan
pertukaran nilai, kepercayaan, dan pola hidup yang mendukung dan memfasilitasi
individu atau kelompok dalam upaya mempertahankan kesehatan, meningkatkan
kondisi sejahtera, mencegah penyakit dan meminimalkan kesakitan;
4. dimensi struktur sosial dan budaya terdiri
dari keyakinan/agama, aspek sosial, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi,
budaya, sejarah dan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi perilaku
manusia dalam lingkungan yang berbeda;
5.care sebagai kata benda diartikan sebagai
fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan atau perilaku lain yang berkaitan untuk orang lain dalam meningkatkan
kondisi kehidupannya;
6.care sebagai kata kerja diartikan sebagai
suatu tindakan dan kegiatan untuk membimbing, mendukung, dan ada untuk orang
lain guna meningkatkan kondisi kehidupan atau dalam menghadapi kematian;
7. caring dalam profesionalisme perawat
diartikan sebagai pendidikan kognitif dan formal mengenai pengetahuan care
serta keterampilan dan keahlian untuk mendampingi, mendukung, membimbing, dan
memfasilitasi individu secara langsung dalam rangka meningkatkan kondisi
kehidupannya, mengatasi ketidakmampuan/kecacatan atau dalam bekerja dengan
klien (Julia, 1995, Madeline,1991).
Sebagai seorang perawat, kemampuan care, core,
dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan
keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall mengemukakan perpaduan
tiga aspek tersebut dalam teorinya
.Care
merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu.
Core
merupakan dasar dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan
kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain.
Sedangkan Cure merupakan dasar dari
ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total
kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia, 1995).
Menurut Boykin dan Schoenhofer, pandangan seseorang terhadap caring
dipengaruhi oleh dua hal yaitu persepsi tentang caring dan konsep perawat
sebagai disiplin ilmu dan profesi. Kemampuan caring tumbuh di sepanjang hidup
individu, namun tidak semua perilaku manusia mencerminkan caring (Julia,
1995). Keperawatan merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan
signifikan. Inti dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adalah
hubungan perawat-klien yang bersifat profesional dengan penekanan pada bentuk
interaksi aktif antara perawat dan klien.Hubungan ini diharapkan dapat
memfasilitasi partisipasi klien dengan memotivasi keinginan klien untuk
bertanggung jawab terhadap kondisi kesehatannya.
2. Humanisme
Humanisme adalah
istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya
ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan
manusia.
Humanisme telah
menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai
seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal
yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu.
Humanisme modern
dibagi kepada dua aliran.Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi
Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan
para cendekiawan dalam kesenian bebas.Pandangan mereka biasanya terfokus pada
martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan
umat manusia.
Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya
globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama.Humanisme sekular juga
percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh
kesadaran diri melalui logika.Orang-orang yang masuk dalam kategori ini
menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum
yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan
agama setempat.
Dampak positif
Teknologi bagi Humanisme Didalam hal ini saya menyatakan teknologi dapat
memberikan pengaruh positif bagi kehidupan manusia / humanism dikarenakan,
dengan adanya teknologi manusia dapat melakukan kegiatan apapun yang di
inginkan nya menjadi lebih mudah,
sebagai contohnya : Dalam segi informasi
setiap manusia sekarang dapat dengan mudah meng akses informasi apapun yang
mereka inginkan hanya dengan menggunakan teknologi internet yang saat ini bisa
digunakan melalui media Komputer, Laptop, Netbook, maupun Telepon genggam.
Sehingga dimana pun mereka berada dan kapanpun
mereka inginkan maka setiap saat orang – orang bisa mendapatkan segala macam
berita yang mereka inginkan Selain itu dalam bidang Komunikasi dengan adanya
perkembangan teknologi khususnya dibidang komunikasi yang baik, mampu memberi
dampak yang sangat baik juga bagi setiap orang, karena perkembangan teknologi
dibidang komunikasi yang semakin baik ini mampu membuat manusia mudah
berkomunikasi dengan siapapun yang mereka inginkan, seperti anggota keluarganya
yang jauh dari mereka, lalu klien kerja, lalu teman – teman, dan lain – lain.
Contoh nya : saat ini kegiatan komunikasi yang
dilakukan oleh orang – orang yang berada jauh dari keluarganya dapat tetap
dengan mudah berkomunikasi dengan hanya menggunakan telpon genggam, tanpa harus
berada tepat didepan keluarganya, namun jika ingin berkomunikasi dengan melihat
keluarganya maka dapat menggunakan fasilitas video call, Yahoo Massenger, dan
lain – lain. Sehingga walaupun berada jauh dari keluarga tapi akan tetap merasa
dekat.
Dalam segi
Transportasi dengan adanya perkembangan teknologi memiliki banyak dampak
positif nya bagi manusia karena dengan itu orang – orang bisa bepergian kemana
saja di dunia ini hanya dengan menggunakan alat transportasi yang ada, seperti
: Pesawat, Kereta Api, Kapal Laut, Mobil, Motor, dan lainnya sehingga tidak
membutuhkan banyak waktu untuk mencapai lokasi tujuan yang mereka inginkan.
Teknologi telah
mempengaruhi masyarakat dan sekitarnya dalam beberapa cara. Dalam masyarakat,
teknologi telah membantu mengembangkan ekonomi yang lebih maju (termasuk
ekonomi global saat ini). Tetapi banyak proses‐proses teknologi
juga yang dapat merugikan manusia juga karena menghasilkan produk yang tidak
diinginkan, Dampak Negatif Teknologi bagi Humanisme.
Didalam hal ini
dengan adanya teknologi tidak hanya memberikan keuntungan dalam Humanisme,
tetapi juga terdapat dampak yang merugikan bagi kehidupan manusia itu sendiri
(Humanisme).
Hal – hal yang
merugikan Humanisme antara lain yaitu:
Didalam segi informasi: Dengan adanya
perkembangan teknologi maka proses kegiatan memproduksi nya pun semakin cepat
dan semakin banyak pula sumber daya alam yang digunakan , sebagai contoh:
Dengan adanya kemajuan teknologi di dalam kegiatan Informasi maka dengan
mudahnya mengakses informasi banyak orang yang kini mengakses informasi hanya
dengan menggunakan fasilitas internet yang terdapat di Telepon genggam maupun
Laptop nya saja sehingga tidak perlu susah payah untuk membeli Koran maupun
majalah, dengan kejadian seperti ini maka banyak orang maupun industry yang
dirugikan, salah satunya yaitu pada industry media cetak yang semakin lama
semakin berkurang peminatnya, bahkan banyak yang akhirnya bankrupt dan akhirnya
banyak nya para karyawan media cetak tersebut menjadi pengangguran. Didalam
segi Komunikasi Dengan adanya kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi
membuat orang – orang menjadi kurang nya bersosialisasi dengan orang lain, hal
ini dikarenakan orang – orang banyak yang berkomunikasi dengan orang lain hanya
menggunakan media – media komunikasi saja meskipun mereka berada pada sebuah
lokasi yang sama, yang akhirnya mampu menyebabkan kesenjangan social dapat
terjadi. Dalam segi Transportasi Dengan banyaknya alat transportasi saat ini
selain memberikan dampak positif bagi Humanisme ternyata juga dapat memberikan
dampak negative bagi kehidupan manusia, Dampak negative yang di timbulkan yaitu
semakin banyaknya Media transportasi yang ada di dunia ini maka semakin banyak
juga Sumber Daya Alam yang digunakan untuk menjadi bahan bakar alat
Transportasi tersebut seperti Minyak Bumi, Pohon-pohon dan Sumber Daya Alam
lainnya yang dapat menjadi bahan bakar Alat Transportasi, sehingga akhirnya
dapat merusak ekosistem alam yang dapat berpengaruh pada kestabilan bumi dan
akhirnya juga dapat merugikan manusia itu sendiri, dan juga banyak menghasilkan
“Polusi” yang dapa merusak udara di bumi dan juga dengan adanya “Polusi” dapat
juga menyebabkan penyakit bagi manusia, karena oksigen yang dihirup oleh
manusia sudah rusak karena sudah tercampur oleh kotoran yang tercampur pada gas
buang kendaraan yang semakin banyak. Dengan hal ini dapat saya jelaskan bahwa
kegiatan yang terjadi karena Sosial Media dan Perubahan Sosial selain terdapat
dampak positif juga terdapat dampak negative juga, oleh karena itu mari kita
minimalisir kan dampak negative itu sendiri agar menjadi dampak positif yaitu
dengan melakukan kegiatan – kegiatan yang lebih baik lagi dalam menggunakan
Teknologi yang tersedia.
3.HOLISME
Holisme adalah
nama yang diberikan kepada keyakinan bahwa adalah penting bahwa semua terkait
erat. Holistik Sebuah melihat dirinya terus-menerus sebagai bagian dari
keseluruhan dan menganggap yang lain (manusia, hewan, tumbuhan atau objek)
sebagai yang lain aku. Holistik ini memandang pemisahan sebagai ilusi yang
diciptakan oleh pikiran.
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi
dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam
memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya
diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,
masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara
umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan
bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu
tempat dengan tempat lainnya.
Konsep dalam Transcultural Nursing
1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan
atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan.
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki
oleh orang lain.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling
memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian
untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan
kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan
yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.
10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung
atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan
untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada
kelompok lain.
Paradigma Transcultural Nursing
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi
dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam
memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya
diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,
masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara
umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan
bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu
tempat dengan tempat lainnya.
Konsep dalam Transcultural Nursing
1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan
atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan.
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki
oleh orang lain.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling
memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian
untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan
kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan
yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.
10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung
atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan
untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada
kelompok lain.
Paradigma Transcultural Nursing
Leininger
(1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun
dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun
dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
2.
Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi
dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang
adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di
daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari
sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai
dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
a. Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan
sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga
klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien
agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang
lain.
c. Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
Proses keperawatan Transcultural Nursing
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi
dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang
adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di
daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari
sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai
dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
a. Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan
sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga
klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien
agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang
lain.
c. Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
Proses keperawatan Transcultural Nursing
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)
menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai
landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and
Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and
Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada
pada “Sunrise Model” yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang
sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di
atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama
lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma
budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa
keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural
yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
3. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger
and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam
keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan
budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan
kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang
menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang
dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang
proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b.
Cultural careaccomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik
c. Cultual care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik
c. Cultual care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya
masingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak
percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan
terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap
keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau
beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
masingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak
percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan
terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap
keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau
beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
BAB 4
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Berdasarkan
teori diatas kami kelompok dapat menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip keperawatan
secara holistik yang di dalamnya memiliki teori sistem dan konsep berubah
merupakan bahan ajar yang memudahkan kami sebagai seorang perawat dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sistem
akan berjalan lancar apabila di gerakkan secara bersama- sama tanpa
mengesampingkan yang lainnya. Begitu juga dengan konsep perubahan. Perubahan dapat membawa
individu menjadi lebih berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
4.2.
Saran
1. Sebaiknya
sebagai seorang perawat, apabila akan melakukan pelayanan kesehatan, perawat
harus mempelajari dahulu apa-apa yang menjadi prioritas dalam memberikan
pelayanan kesehatan sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan pasien.
2. Perawat harus
mempelajari sistem dan perubahan yang ada dalam diri seorang pasien tanpa
membandingkan status ekonomi dari pasien tersebut sehingga tidak menimbulkan perbedaan
pendapat.
3. Hadapi setiap
perubahan dengan tenang dan penuh humor (yakinlah bahwa perubahan adalah hal yg
sulit, dan menjadi agen pembaharuan akan lebih sulit).
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2008. Perubahan
Dalam Keperawatan. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/05/07/perubahan-dalam-keperawatan/. Diakses
pada 31 Agustus 2010 Pukul 13:05 wita
Anonim. 2010. Aplikasi Teori Adaptasi Dalam Kasus Discectomi. Wikipedia. Jakarta.
Dalam http:///F:/aplikasi-teori-adaptasi-dalam-kasus.html. Diakses
pada 31 Agustus 2010 Pukul 14:01 wita
Arifiyanto, Dafid. 2008. Konsep Berubah. Wikipedia. Jakarta.
Dalam
berubah.html. Diakses pada 31 Agustus 2010 Pukul 12:40 wita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar